Apa kata Mereka tentang Al Jazirah Herbal?

  • AL JAZIRAH HERBAL, mengutamakan kepuasan konsumen, dapat dipercaya. terbukti: waktu Saya memesan obat lewat TIKI. Barang cepat diantar dan sampai ke tujuan. Padahal Saya belum transfer uang sama sekali-Bpk. Hendy, Bandung
  • Alhamdulillah begitu Saya mengkonsumsi Produk Herbal (OBAHAMA) memang manjur, terutama habbatussauda, mahkota dewa, Sari Kurma, Minyak Zaitun dan masih banyak lagi khasiat yang lainnya-Bpk. Kartono, Jakarta
  • Sejak putri saya mengkonsumsi Habbatussauda haidnya menjadi teratur. terus terang saya agak kuatir dengan keadaan anak saya dulu. tapi kini saya tenang dan merasa mantap mengkonsumsi habbatussauda, karena Habbatussauda alami sehingga aman digunakan dalam janka waktu panjang-Ibu Lilyana Fikri, Jakarta
  • Saya ingin bercerita sedikit setelah saya mengkonsumsi habbatusauda. dulu sebelum mengkonsumsi saya sering merasa lemah dan cepet capek. selain itu saya juga memiliki penyakit susah buang air besar dan perut yang sensitif terhadap makanan suka merasa kembung dan mulaes2. Alhamdulillah setelah saya mengkonsumsi habbatussauda selama 3 minggu, saya merasa banyak perubahan yang terjadi dalam tubuh saya. badan serasa segar dan tidak mudah capek!!! di tambah buang air besar menjadi lancar lancar, perut yang biasa kembung dan mules2 sudah tidak terasa. dan yang paling dahsyatnya saya sering tidur larut malam bahkan sampe pagi, alhamdulillah tidak terserang penyakit dan badan merasa segar sewaktu bangun walaupun tidur cuma sebentar.-Sdr. Rezki Putra, Jakarta
CALL NOW 021 947 056 03 OR 0813 830 810 21
Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket

install windows ana-moslem airsoft gun airsoft gun

Senyum Jenazah Para Mujahidin

Jawaban Syaikh Az-Zarqawy terhadap Wawancara Syaikh Al-Maqdese dengan Stasiun Al-Jazeera
Desember 30, 2007

Segala puji bagi Alloh, yang memuliakan Islam dan pertolongan-Nya. Yang menghinakan kesyirikan dengan kekuatan-Nya. Yang mengatur semua urusan dengan perintah-Nya.Yang mengulur batas waktu bagi orang-orang kafir dengan makar-Nya. Yang mempergilirkan hari-hari (kemenangan) antar umat manusia dengan keadilan-Nya, dan menjadikan hasil akhir sebagai milik orang-orang bertakwa dengan keutamaan-Nya.

Sholawat dan salam terhatur selalu kepada Nabi Muhammad, manusia yang Alloh tinggikan menara Islam dengan pedangnya.Amma ba`du…Sesungguhnya Alloh SWT menguji hamba-hamba-Nya seiring berlalunya hari dan malam dengan berbagai macam cobaan dan bala’, dalam rangka menguji, mencoba dan menyeleksi mereka.

Alloh Ta`ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.”

Di dalam Shohih Muslim disebutkan bahwa Alloh SWT berfirman kepada Nabi-Nya SAW:

إنَّما بعثتُك لأبتليَك، وأبتليَ بك

“Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menguji manusia denganmu.”

Dan lihatlah, ujian demi ujian menerpa negeri Dua Aliran Sungai secara silih berganti sejak para penyembah salib menginvasi negeri tersebut, yang mana mereka bermaksud menimpakan fitnah kepada masyarakat dan menguasai tanah air, di bawah komando batalyon salibis terbesar yang pernah dikenal oleh sejarah zaman sekarang.

Dan Alloh SWT telah memuliakan kami dengan memberi kesempatan untuk menempuh jalan jihad di jalan-Nya, demi membela agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya. Manusia membidik kami dari satu busur dan mengarahkan anak panahnya ke arah kami, mereka gunakan lidah mereka untuk memperburuk citra dakwah dan jihad yang kami lakukan, dan untuk membuat orang lari menjauhi kami.

Kami terus berjalan sementara penghibur kami adalah sabda Nabi SAW: “…mereka tidak terpengaruh oleh orang yang mentelantarkan mereka, mau pun yang menyelisihi mereka.”

Yang menghibur dan meringankan kami dalam menanggung kesepian dan keterasingan yang kami rasakan dalam menempuh jalan kami ini adalah; para pengkritik langkah kami itu adalah penganut konsep yang rusak dan jalan fikiran yang batil.

Di sisi lain, Alloh telah memuliakan para mujahidin dan wali-wali-Nya yang jujur, ketika Alloh memenangkan mereka dalam pertempuran pertama di kota Fallujah melawan pasukan koalisi. Maka Alloh hinakan musuh mujahidin dan memukul mundur mereka dalam keadaan merugi.

Ketika para mujahidin tengah merasakan teduhnya kemenangan nyata ini, dan ketika mereka tengah menjalani hari-harinya, tiba-tiba ada yang memperkeruh suasananya dan melenyapkan kemanisannya. Sebuah “panah” baru kembali mengarah ke leher-leher kami. Tetapi kali ini bukan berasal dari orang-orang yang kami sebutkan sifatnya di muka, tetapi berasal dari seorang tokoh yang menisbatkan diri kepada konsep jihad dan termasuk ahli ilmu. “Panah” itu adalah artikel syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi -semoga Alloh senantiasa menjaga beliau-berjudul: Al-Zarqawi: antara harapan dan keprihatinan, pembelaan sekaligus dukungan.

Penyair berkata:

Kezaliman kerabat lebih menyakitkan
bagi seseorang, daripada tebasan pedang

Aku tidak akan pernah melupakan tangisan syaikh Abu Anas -rahimahulloh– ketika beliau melihat kesedihan terpancar di raut mukaku setelah aku membaca nasehat dalam artikel ini, karena di dalamnya berisi kezaliman, tidak melakukan tabayyun, dan pemutar balikan fakta. Beliau menghiburku dengan mengatakan: “Hai Fulan, sesungguhnya Alloh membela orang-orang beriman.”

Bukan berarti mengumbar rahasia ketika saya katakan bahwa tadinya saya mengira ini masalah kecil, sebentar lagi akan lurus sendiri, masalah ini hanya akan berhenti di situ. Akan tetapi ternyata syaikh Al-Maqdisi -hafidzohulloh-turut menyertakan kritikan ini dengan artikelnya yang berjudul: Waqofaat ma`a tsamroti `l-jihad (koreksi atas hasil-hasil jihad selama ini), kemudian beliau menegaskannya dalam wawancara dengan Al-Jazeera tersebut, bahwa dalam hal ini dirinya berbicara atas pilihannya sendiri, tidak ada seorang pun yang menekannya.

Dari sini saya melihat masalahnya sudah mulai keluar dari koridor nasehat dan pembelaan, dan nasehat yang dimaksud itu telah kehilangan arah dan jalan yang syar`i, di sana mulai nampak dampak-dampak ke depan yang lain, terutama dalam suasana rawan seperti sekarang-sekarang ini, di mana runtuhnya kekuatan pasukan penyembah salib mulai terlihat dengan jelas bagi setiap yang memiliki mata. Maka saya merasa berkewajiban untuk menjelaskan fakta-fakta yang ada dan mengoreksi beberapa kesalahan yang tercantum dalam nasehat dan wawancara dengan Al-Jazeera tersebut. Tetapi saya tidak mengoreksinya secara keseluruhan, sebab itu akan membutuhkan catatan berlembar-lembar.

Ma laa yudroku kullahu laa yutroku jullahu (yang tidak bisa digapai seluruhnya, tidak perlu ditinggalkan sebagian besarnya)

Semoga Alloh meluruskan saya dan menjaga saya dari kepentingan pribadi.

Saya katakan, dan hanya dengan pertolongan Alloh saja aku mendapat taufik, kepada-Nya saja aku bersandar:

Pertama: Koreksi saya akan berbicara seputar beberapa fakta yang terkait dengan metode jihad yang kami lakukan di Irak. Saya tidak akan memberi komentar tentang fakta di dalam nasehat Syaikh -hafidzohulloh-tentang hubungan saya dengan beliau dan kejadian yang pernah saya alami dengan beliau di masa lampau, karena saya melihat itu tidak membantu menjelaskan masalah yang sedang kita hadapi dan bahkan justeru memberi manfaat kepada musuh-musuh Islam.

Kedua: Syaikh -hafidzohulloh-menyebutkan di bagian awal nasehatnya, bahwa dirinya sudah berusaha dengan sangat serius untuk menyampaikan banyak hal dari isi nasehat tersebut secara langsung kepada saya, akan tetapi belum berhasil -menurut beliau-akhirnya ia terpaksa mempublikasikannya secara luas.

Kalaulah kita setuju dengan hal ini, lantas mengapa kata-kata yang sama kembali beliau sebutkan dalam wawancaranya dengan Al-Jazeera, kalau memang yang dimaksud adalah menyampaikan nasehat? Bukankah nasehat yang sama pernah beliau sampaikan kepada saya dalam suratnya? Juga, mengapa disampaikan di waktu-waktu seperti ini, yang hanya akan memberikan keuntungan kepada fihak salibis dan boneka-boneka murtad mereka?

Ketiga: Syaikh -hafidzohulloh- menyebut-nyebut saya sebagai orang yang pernah mengambil ilmu dari beliau, menggunakan nama besarnya sebagai syaikh, dan bahwa saya tidak pernah mengeluarkan pendapat kecuali dari pendapat beliau, tidak mengatakan kecuali ucapan dan pilihan beliau.

Saya katakan:

Tidak diragukan bahwa syaikh Abu Muhammad -hafidzohulloh-termasuk orang yang memiliki andil besar terhadap saya sebagai hamba yang fakir ini. Beliau memang salah satu nara sumber saya dalam menerima ilmu tentang tauhid dan rincian-rinciannya. Saya juga menganut keyakinan yang banyak diyakini Abu Muhammad. Akan tetapi yang harus dicatat, saya mengikuti beliau semata-mata didasari keyakinan bahwa apa yang beliau utarakan dan beliau tulis di dalam risalah-risalahnya itu sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah. Dan sikap saya itu bukan taklid buta semata. Seandainya saya mengikuti beliau hanya didasari taklid buta, tentu taklid kami itu lebih layak kami berikan kepada orang yang kedudukan dan ilmunya jauh lebih tinggi daripada beliau. Prinsip dakwah kita adalah mengikuti Al-Quran dan Sunnah, selanjutnya kita mengambil pendapat yang bersesuaian dengan keduanya dan membuang semua pendapat yang menyelisihi keduanya.

Sebagaimana saya mengambil ilmu dari syaih Abu Muhammad -hafidzohulloh-, saya juga mengambil ilmu dari ulama lain; bukan berarti saya hanya mengikuti perkataan Al-Maqdisi saja. Ilmu tidaklah terkonsentrasi dalam diri beliau seorang, dan tidak semua perkataan Al-Maqdisi tepat serta harus diikuti; khususnya dalam masalah-masalah ijtihadiyah dan kasus-kasus yang terjadi di lapangan.

Secara pribadi, dalam menjalankan jihad ini, saya tidak pernah berani menjalankan suatu urusan kecuali setelah dipandu oleh kaidah-kaidah syar`i; saya tidak berani menerapkan sebuah masalah sebelum saya meminta masukan dari para ulama yang jujur dan turut berjihad. Hanya Alloh yang tahu kalau hubungan saya terus terjalin dengan sebagian ulama yang ilmunya lebih tinggi dibanding Al-Maqdisi, di mana saya selalu meminta fatwa kepada mereka dalam mayoritas kasus yang saya hadapi. Para ulama itu sekarang diuji dengan dipenjarakan di penjara-penjara thoghut. Kalau bukan khawatir akan membahayakan mereka, tentu akan saya sebutkan nama-namanya.

Setiap orang yang mengenal saya -sebagai hamba yang fakir ini-, dan mengenal syaikh Abu Muhammad, baik di dalam atau di luar penjara, akan tahu secara yakin bahwa saya sering berbeda pandangan dengan beliau dalam banyak permasalahan. Khususnya masalah-masalah yang terkait dengan jihad dan amal jama`i. Kemudian sekeluarnya saya dari penjara dan saya memutuskan untuk berangkat ke medan jihad, saya tidak meminta saran terlebih dahulu kepada Abu Muhammad -hafidzohulloh-; saya memiliki pandangan lain dengan Syaikh Al-Maqdisi -hafidzohulloh- dalam urusan membela agama ini.

Seiring dengan ini, saya merasa sedih dan menyayangkan, mengapa kata-kata itu keluar dari seorang Abu Muhammad, yang salah satu prinsip dakwahnya adalah menghambakan manusia kepada Alloh; bukan kepada orang atau tokoh… yaitu kata-kata: “…saya sebagai syaikh, di bawah naungan nama kebesaran saya, mengambil manfaat dari nama saya.”

Wallohu l-musta`an, hanya Alloh tempat meminta pertolongan.

Apakah Anda semua pernah menjumpai dalam Al-Quran dan Sunnah, atau dalam sejarah para pendahulu kita; bahwa jika seseorang mengambil faedah dari seorang syaikh dalam ilmu tertentu, lalu orang itu menjadi “budak”-nya? yang kemudian ia tidak boleh menyelisihi ijtihadnya, atau menggunakan pendapat ulama selain dia?

Keempat: Syaikh menyebut diri saya pernah memberikan syarat kepada syaikh Usamah -hafidzohulloh-untuk mau bekerja sama dengan beliau asal beliau mau menjadikan manhaj Abu Muhammad sebagai kurikulum pengajaran.

Saya katakan: perkataan ini sama sekali tidak benar, belum pernah saya duduk bersama syaikh Usamah -hafidzohulloh-khusus untuk menyampaikan urusan ini.

Saya mau bertanya kepada syaikh Al-Maqdisi -hafidzohulloh-tentang perkataan beliau: Manhaj Abu Muhammad; apakah ini manhaj beliau pribadi yang sebelumnya belum pernah ada yang mendahului, ataukah manhaj yang mengikuti ulama lain dari kalangan para pendahulu kita yang sholeh? Jika jawabannya yang pertama, maka kita tidak perlu manhaj beliau, sebab agama kita adalah agama ittiba` (mengikuti warisan salaf), bukan agama ibtida` (membuat manhaj baru), dan manhaj para pendahulu kita sudah cukup daripada memakai manhaj si fulan dan si fulan. Tetapi jika jawabannya adalah kedua -dan itu yang sepantasnya menjadi jawaban beliau-maka mengapakah beliau menisbatkan manhaj tersebut kepada dirinya? Padahal syaikh-syaikh di medan jihad di zaman kita sekarang juga menyerukan dakwah yang sama dengan yang diserukan Abu Muhammad, tetapi belum pernah kami mendengar satu pun dari mereka mengatakan: Ini adalah manhajku!!

Saya tak habis pikir, bagaimana seorang syaikh Abu Muhammad melontarkan pernyataan seperti ini sebelum beliau men-crosscek berita itu kepada saya. Akibatnya muncullah pertanyaan-pertanyaan yang cukup membuat saya terusik; mengapa pernyataan ini keluar dalam suasana yang sangat sensitif seperti ini? Lebih-lebih saya sekarang berstatus sebagai salah satu tentara syaikh Usamah -hafizhohulloh. Apa manfaatnya? Dan siapa yang mengambil keuntungan dengan disampaikannya kisah itu sekarang?

Kelima: Syaikh Abu Muhammad mengatakan bahwa saya mengikuti pendapat beliau mengenai tidak bolehnya melakukan operasi mencari mati syahid (amaliyah istisyhadiyah), kemudian beliau mengatakan bahwa di Irak sekarang saya terlalu longgar dalam membolehkan pelaksanaan amal istisyhadiyah ini.

Saya katakan: Yang benar bukan seperti beliau katakan. Saya sudah berpendapat tidak bolehnya melakukan aksi istisyhadiyah ketika saya masih di Afghanistan beberapa saat setelah invasi komunis ke negara tersebut. Hal ini karena saya mengikuti sebagian tokoh ketika itu, ketika saya belum pernah berjumpa dengan Al-Maqdisi. Begitu saya bertemu dengan beliau, keyakinan saya itu ternyata sesuai dengan pendapatnya. Kemudian ketika kami sama-sama keluar dari penjara dan saya pergi untuk kedua kalinya ke Afghanistan, saya berjumpa dengan syaikh Abu `Abdillah Al-Muhajir. Terjadilah dialog antara kami mengenai hukum operasi mencari mati syahid. Ternyata syaikh Al-Muhajir berpendapat boleh, saya juga membaca tulisannya yang cukup menarik dalam masalah ini, di samping mendengarkan juga kaset-kaset ceramah beliau dalam masalah yang sama. Sejak itu Alloh melapangkan dada saya untuk menerima pendapatnya. Saya tidak hanya berprinsip boleh, bahkan saya mulai melihat operasi seperti ini adalah sunnah. Ini, demi Alloh, barangkali termasuk berkah daripada ilmu dan perjumpaan dengan ahlinya. Akhirnya saya menjadwalkan semacam dauroh (seminar) syar`iyyah kecil-kecilan selama sepuluh hari di sebuah kamp latihan di propinsi Herat, yang materinya diampu oleh syaikh Al-Muhajir. Selama sepuluh hari itu beliau menerangkan masalah hukum amaliyah istisyhadiyah kepada para ikhwah, di mana penyampaian beliau cukup memberikan pengaruh dalam diri mereka.

Kemudian, mengapa syaikh Abu Muhammad harus mengingkari perubahan ijtihad saya tentang hukum melakukan operasi seperti ini? Padahal beliau tadinya juga berpendapat itu haram, tetapi kemudian berpendapat boleh dengan beberapa syarat yang beliau letakkan. Bukankah akan lebih adil jika di samping menyebutkan perubahan ijtihad saya beliau juga menyebutkan perubahan ijtihadnya sendiri?

Bukhori meriwayatkan secara mu`allaq, dan Ibnu Abi Syaibah menyambungkannya kepada shahabat `Ammar RA bahwa ia berkata: “Tiga hal yang siapa mengumpulkannya maka ia telah mengumpulkan iman: bersikap adil terhadap dirimu, berinfak ketika kondisi kikir, dan mengucapkan salam kepada orang alim.”

Keenam: Syaikh -hafidzohulloh-menyatakan bahwa saya menamai kelompok saya saya dengan “Jamaah Tauhid wal Jihad” karena mengacu kepada nama website yang beliau kelola, yaitu: Mimbar Tauhid wal Jihad.”

Kami menyayangkan mengapa beliau mengkritik penamaan kelompok kami dengan nama tersebut? Apakah nama itu hanya monopoli satu orang saja?

Rasa heran saya semakin tak berujung, bagaimana kata-kata seperti ini keluar dari seorang Abu Muhammad -hafidzohulloh-? Memori saya berputar kembali untuk mengingat masa-masa ketika kami saling memotivasi satu sama lain dalam dakwah dan berbagai fitnah yang kami terima dari tokoh-tokoh Murjiah dan Jahmiyah; seperti `Ali Al-Halabi dan lain-lain, yang kerjanya mengklasifikasikan manusia berdasarkan sejalan tidaknya manusia tersebut dengan pemikiran mereka. Siapa yang sejalan berarti dia pengikut salaf, siapa menyelisihi berarti dia ahli bid`ah. Ketika itu Syaikh Al-Maqdisi -hafidzohulloh-selalu menyatakan bahwa salafiyah bukan “kantor perwakilan khusus”, bukan pula “perusahaan saham” yang hanya boleh dimonopoli orang-orang tertentu sementara yang lain dilarang ikut di dalamnya. Lalu mengapa Syaikh Al-Maqdisi -hafidzohulloh-hari ini justeru terjerumus ke dalam perkara yang beliau kritik orang lain di masa lampau?

Seandainya saya membentuk sebuah kelompok dan menamainya: JAMAAH SALAFIYAH LI `D-DAKWAH WA `L-QITAL FI `l-IROQ, apakah berarti harus ada penisbatan kepada ikhwan-ikhwan di Aljazair -semoga Alloh melindungi mereka-?

Banyak sekali para ulama kita yang menulis berbagai karya dengan judul sama, namun belum pernah kita mendengar yang satu menyalahkan yang lain. Contohnya adalah kitab Az-Zuhd, ada yang tulisan Ibnu `l-Mubarok, ada yang tulisan Ibnu Abi `Ashim, Ahmad bin Hanbal dan Baihaqi. Demikian juga kitab Ahkamu `l-Qur’an, ada yang tulisan Al-Jashosh, ada yang tulisan Ibnu `l-Arobi. Kemudian Fathu `l-Bari, ditulis oleh Ibnu Rojab disamping ditulis oleh Ibnu Hajar Al-`Asqolani, dan masih banyak contoh kitab yang lain.

Memang, bisa jadi benar jika kami menamakan kelompok kami dengan Jamaah Tahuid wal Jihad karena terinspirasi oleh Mimbar Tauhid wal Jihad, atau mengikuti Mimbar Tauhid wal Jihad, atau yang mengikuti Syaikh Al-Maqdisi -hafidzohulloh-, atau mengikuti syiar dari Mimbar itu sendiri, atau alasan serupa lainnya.

Pertanyaan yang dengan sendirinya muncul dan selalu mengusik orang yang mendengar statemen beliau ini adalah: Apa maksud menceritakan permasalahan seperti ini, dan mengulang-ulangnya dalam setiap kesempatan, padahal kelompok bernama Jamaah Tauhid wal Jihad kini tinggal kenangan dan sekarang kelompok tersebut sudah berafiliasi di bawah bendara Tandzim Al-Qaeda?

Ketujuh: Syaikh -hafidzohulloh-menyatakan tak sependapat dengan aksi peledakan gereja dan membunuh warga sipil.

Saya katakan: Saya tidak mengerti dari mana Syaikh mengambil sumber berita, dari mana beliau menerima data-datanya? Padahal, sudah kami nyatakan secara gamblang di dalam kaset berjudul: Wi`ad Ahfaadi Ibni `l-`Alqomi, bahwa kami sama sekali tidak menjadikan warga sipil dari kelompok Kristen atau yang lain sebagai target serangan. Di antara pernyataan kami di dalam kaset tersebut:

“Di negeri Dua Aliran Sungai terdapat banyak sekte. Ada sekte Shobi’ah, ada Yazidiyyun para penyembah setan, Kaldaniyyun dan Aasyuuriyyun. Kami sama sekali tidak akan menyakiti mereka, kami tidak akan mengarahkan tembakan kami ke arah mereka, meskipun mereka adalah kelompok yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Islam. Tetapi kami belum melihat mereka ikut bekerjasama dengan tentara salib dalam memerangi Mujahidin dan tidak juga memainkan peran memalukan seperti yang dimainkan kaum Syiah (Rofidhoh).”

Kedelapan: Syaikh menyayangkan perang yang kami lancarkan kepada kaum Syiah (Rofidhoh), beliau juga berpendapat bahwa kalangan awam Syiah sama dengan kalangan awam Sunni.

Saya katakan: Mengenai perang yang kami lancarkan kepada Rofidhoh, kami berulang-ulang menyatakan -khususnya dalam kaset tadi-bahwa kami bukan pihak yang memulai, bukan pula yang pertama kali membidikkan tembakan. Merekalah yang pertama kali memberangus kader-kader Ahlus Sunnah (Sunni), memaksa mereka mengungsi, menginjak-injak masjid dan rumah-rumah mereka. Kebiadaban milisi Badar masih segar dalam ingatan kita, terlebih lagi mereka menggunakan seragam polisi dan aparat keamanan nasional dalam melakukan aksinya. Dan sebelum semua ini, mereka telah memberikan kesetiaan (wala’)-nya kepada tentara salib. Maka setelah semua fakta ini, masihkah kami memiliki alasan untuk tidak memerangi mereka?

Adapun pendapat bahwa kalangan awam Syiah sama dengan kalangan awam Sunni, maka demi Alloh ini adalah sebuah kedzaliman terhadap kaum awam Sunni. Samakah orang yang prinsip dasar keyakinannya adalah tauhid, dengan orang yang prinsip dasar keyakinannya adalah memohon pertolongan kepada Husain dan Ahli Bait? Perbuatan mereka di Karbala dan tempat-tempat lain bukan menjadi rahasia lagi bagi setiap yang memiliki mata. Ini ditambah keyakinan mereka bahwa para imam mereka berstatus ma`shum (terjaga dari kesalahan), meyakini bahwa para imam itu mengetahui yang ghoib dan turut mengendalikan alam semesta, dan masih banyak lagi kesyirikan-kesyirikan yang sebenarnya siapa pun tidak bisa beralasan untuk tidak mengetahui ilmunya.

Samakah orang yang prinsip utamanya ridho kepada sahabat Nabi SAW, dengan orang yang prinsip utamanya membenci sahabat bahkan melaknat mereka, terutama dua sahabat: Abu Bakar dan `Umar RA, serta menuduh Ash-Shiddiqoh `Aisyah RA berbuat keji? Demi Robbku, tidaklah keduanya sama.

Demi Alloh keduanya tidak sama dan tidak akan pernah bertemu
Sampai jambul burung gagak beruban sekalipun

Kemudian, bagi yang mengamati kondisi kaum Syiah di Irak, secara yakin akan menyimpulkan bahwa mereka bukanlah masyarakat awam seperti yang Anda maksud. Sebab kini mereka berubah menjadi balatentara pasukan kafir penjajah dan memata-matai mujahidin yang jujur. Mungkinkan Ibrohim Ja`fari dan Al-Hakim serta tokoh Syiah lainnya bisa mencapai kursi kekuasaan tanpa suara yang mereka berikan? Adalah tindakan dzolim ketika seseorang menggunakan fatwa Ibnu Taimiyah tentang zamannya, kemudian menerapkannya untuk fakta kaum Syiah hari ini (tanpa melihat perbedaan-perbedaan dari dari dua masa itu). Di samping itu, ada beberapa ulama yang menyatakan kafirnya pengikut sekte Syiah Rofidhoh secara perorangan, di antaranya adalah Syaikh Hamud Al-Uqola -rahimahulloh-, Syaikh Sulaiman Al-Ulwan dan Syaikh `Ali Al-Khudhoir -semoga Alloh membebaskan mereka dari penjara-, Syaikh Abu `Abdillah Al-Muhajir, Syaikh Ar-Rosyud -rahimahullah-dan lain-lain.

Kesembilan: Syaikh Al-Maqdisi -hafidzohulloh-menyatakan dirinya tidak menganjurkan para pemuda yang mau berjihad untuk pergi ke Irak, sebab itu justeru hanya akan “menghanguskan” mereka -demikian istilah beliau-.

Ini -demi Alloh-adalah musibah besar. Logiskah fatwa seperti ini keluar dari orang sekelas Abu Muhammad? “Menghanguskan” yang bagaimana yang Anda maksud, wahai Syaikh yang Mulia?

Penghangus yang paling menghanguskan adalah berpaling dari hukum Alloh SWT yang memerintahkan untuk berangkat ke medan-medan jihad. Alloh Ta`ala berfirman: “Berangkatlah berperang, baik dalam keadaan ringan atau berat…”

Sesungguhnya penghangus adalah meninggalkan perbuatan yang disepakati oleh umat Islam, yaitu wajibnya membantu orang-orang muslim tertindas, yang diserang oleh musuh mereka, yang menjajah negeri mereka dan memperkosa kehormatan mereka. Alloh Ta`ala berfirman: “… dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan…”

Penghangus adalah berpangku tangan dari membebaskan kaum muslimin yang ditawan di penjara Abu Ghorib, Guantanamo dan lain-lain.

Penghangus adalah mentelantarkan pembebasan saudari-saudari kita yang suci dan bersih, yang kehormatan mereka direnggut setiap saat oleh kaum salibis dan Syiah Rofidhoh pendengki, di depan penglihatan dan pendengaran seluruh masyarakat dunia.

Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi saja -yang merupakan salah satu penguasa tiran dan kejam-ketika mendengar berita ada wanita muslimah yang ditawan di India berteriak: “Wahai Hajjaaj…!”, ia langsung menjawab: “Aku sambut panggilanmu, aku sambut panggilanmu.” Lalu ia membelanjakan dana sebesar tujuh juta dirham hingga akhirnya berhasil menaklukkan India dan membebaskan wanita itu serta memperlakukannya dengan baik.

Bukankah konsekwensi mengambil fatwa beliau ini adalah meninggalkan jihad dan membiarkan tanah air kaum muslimin dikuasai para penyembah salib, sehingga mereka bisa berbuat apa saja terhadap kaum muslimin?

Sungguh, berangkat ke medan jihad tidak akan menyegerakan ajal dan tidak menjauhkan rezeki. Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan dalam jiwaku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati sebelum ia menyempurnakan jatah rezeki dan ajalnya.”

Lihatlah Kholid bin Walid RA, beliau terjun dalam lebih dari seratus pertempuran, tetapi setelah itu beliau -Radhiyallohu Anhu-justeru meninggal di atas tempat tidurnya.

Maka dari itu, saya sarankan kepada kaum muslimin untuk mengabaikan fatwa Syaikh ini, yang menyatakan bahwa keberangkatan para pemuda Islam dalam rangka membela agamanya, melindungi kesucian dan kehormatannya, adalah penghangus. Dalam hal ini jelas beliau menyelisihi ijmak umat Islam tentang masalah mengusir musuh yang menyerang. Hendaknya kalian berpegang kepada para ulama mujahidin dan para komandan mereka. Perhatikan Syaikh Usamah bin Ladin yang berpendapat bahwa kalian (di Irak) sedang berada di daerah perbatasan musuh yang sangat bernilai agung, bahkan beliau bersumpah jika menemukan jalan untuk pergi ke Irak beliau tidak pernah ragu untuk berangkat. Demikian juga Syaikh Ayman Adz-Dzowahiri, beliau berpendapat perang kalian (di Irak) adalah kewajiban. Juga Syaikh Sulaiman Al-`Ulwan, Syaikh Abu `Abdillah Al-Muhajir, Syaikh Abu Laits Al-Libbi, Syaikh `Abdulloh Ar-Rosyud -Rahimahulloh-, Syaikh Yusuf Al-`Uyairi -Rahimahulloh-, Syaikh Hamd Al-Humaidi dan lain-lain. Mereka semua berpendapat bahwa jihad di Irak termasuk kewajiban yang paling utama. Jadi, referensi kita adalah Al-Quran dan Sunnah, maka apa saja yang sesuai dengan keduanya kita ikuti, dan apa yang menyelisihi keduanya kita tolak, meskipun yang menyelisihi itu adalah manusia paling berilmu, dan meski pun di saat yang sama kami tetap menghormati kedudukan dan keilmuannya.

Demi Alloh, wahai Abu Muhammad, seandainya seluruh umat Islam menghadang dan mengatakan: Jihad di Irak adalah penghangus, aku tetap tidak akan menuruti mereka dalam masalah ini, kecuali jika mereka menunjukkan dalil yang jelas. Bagaimana tidak, sementara kitab Alloh dengan begitu gamblang mengatakan kebenaran kepada kita, Alloh berfirman:

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Alloh dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Robb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya, dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!.”

Alhamdulillah-nya kita bukan orang Rofidhoh, sehingga kami akan menutup telinga kami dan membutakan penglihatan kami, serta mengikuti refensi pendapat kami tanpa didasari petunjuk dan ilmu. Bukankah fatwa beliau ini -apalagi di saat kekalahan tentara Amerika mulai terlihat begitu jelas-hanya akan menjadi sarana untuk menyelamatkan Bush dan para pengikutnya, entah kita sadari atau tidak, dan kita sengaja atau tidak?

Saya tidak menemukan bantahan lebih bagus selain perkataan beliau sendiri ketika beliau memberikan pengantar terhadap buku berjudul Ju’natu `l-Muthibin tulisan Syaikh Abu Qotadah -hafidzohulloh-, di mana beliau mengatakan: “Kita tidak boleh menjadi batu penghalang dengan menyampaikan fatwa atau hukum yang berpandangan pendek, yang tidak menyentuh tujuan-tujuan utama syariat dan tidak berdasarkan pengetahuan tentang kondisi realita kaum muslimin; sehingga kita menghalangi orang dari setiap peperangan atau jihad yang sedang tegak di bumi, yang dilakukan untuk mengusir serangan terhadap kaum muslimin tertindas atau tempat-tempat suci mereka, dengan alasan jihad tersebut mengandung unsur-unsur kesalahan dan penyimpangan. Wahai hamba Alloh, jika engkau memang menginginkan jihad yang betul-betul robbani yang bebas dari kotoran dan syubhat-syubhat tersebut, dan engkau menyayangkan nyawamu untuk kau korbankan selain untuk jihad seperti ini, silahkan saja. Tidak ada yang boleh melarangmu. Sebab nyawa itu hanya satu, tidak ada cadangan lain untuk coba dikorbankan di suatu tempat, kemudian pindah ke tempat lain, kemudian ke tempat lain. Hanya saja, jangan sampai dirimu menghalangi orang lain untuk melakukan jihad yang terkadang dibolehkan -atau bahkan diwajibkan-oleh syariat hanya karena di dalam jihad itu ada beberapa kesalahan dan perbuatan tidak pantas. Bahkan lebih jauh saya katakan: Jangan sampai kamu menghalangi orang lain untuk memerangi musuh-musuh Alloh, walau pun mereka yang berperang berasal dari kalangan orang-orang yang tidak begitu istimewa, atau tidak berada di atas jalan orang-orang beriman.

Bukankah kesadaran tentang jalan orang-orang pendosa dan kematangan dalam memahami realita yang dihadapi kaum muslimin tidak akan tercapai kalau kita tidak ikut serta menyokong aksi perlawanan mereka, dan kita tidak menjadi batu penghalang dalam medan-medan pertempuran seperti ini?

Lagi pula, apa alasan untuk menyeret para pemuda yang bersemangat itu untuk menjadi lemah dan menghalangi mereka dari mengikuti aksi perlawanan seperti ini? Benarkah karena dorongan nasehat kepada orang yang berhak menerimanya? Sungguh nasehat itu bisa disampaikan tanpa harus melemahkan semangat mereka, atau mengecilkan nilainya, atau nilai darah yang masih terus mengalir di sana.” Demikian perkataan beliau.

Terakhir, dalam rangka mengamalkan sabda Nabi SAW: “Agama adalah nasehat…” saya katakan kepada Syaikh -hafidzohulloh-: “Tulisan Anda yang Anda anggap sebagai pembelaan dan nasehat itu, sebenarnya sama sekali bukan pembelaan. Anda telah menyebutkan perkara-perkara yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan nasehat, yaitu menyebutkan fakta-fakta dan posisi-posisi dalam sejarah dakwah kita. Bahkan sayangnya lagi, Anda tidak berusaha adil dalam menilainya serta tidak berusaha menyebutkannya secara terperinci. Perlu Anda ketahui, wahai Abu Muhammad, saya bisa mengkritisi banyak kesalahan-kesalahan yang Anda sebutkan, dengan kekuatan maksimal. Akan tetapi kekuatan dan sikap keras itu biarlah saya simpan sebagai persediaan menghadapi musuh-musuh agama ini, bukan menghadapi saudara-saudaraku sendiri. Dan inilah yang diperintahkan Robb kita -Tabaroka wa Ta`ala- kepada kita; “Muhammad itu adalah utusan Alloh, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”

Dan saya ingin sekedar menyampaikan kabar gembira kepada Anda, Abu Muhammad; kaum penyembah salib, kaum sekuler, Rofidhoh, Hizb Islami, Jahmiyah dan Murjiah di Irak mulai membagi-bagikan artikel pembelaan Anda ini kepada masyarakat, sehingga menghalangi mereka untuk bergabung bersama barisan mujahidin.

Perlu Anda ketahui juga, wahai Syaikh kami yang mulia, tak lama setelah wawancara Anda dengan Al-Jazeera, musuh-musuh Alloh dari kalangan sekuler dan kaum munafik umat Islam mulai melewati malam terbaik. Lihatlah si kaki tangan keluarga Salul, Al-`Awaji, menyampaikan pesan atas perintah atasan-atasannya: bahwa Al-Maqdese telah berubah fikiran dan perpecahan akan segera muncul di tubuh para mujahidin.

Al-`Awaji adalah orang yang keluar di saluran televisi pada saat terbunuhnya Al-Muqrin -semoga Alloh merahmatinya dan meninggikan derajatnya- untuk memberikan pembelaan kepada thoghut, ia mengatakan terhadap Al-Muqrin dan Syaikh Al-`Uyairi -semoga Alloh merahmati mereka berdua-: “Kalian sekarang berada di negeri kebenaran (akhirat), apa yang akan kalian katakan kepada Alloh ketika Dia menanyai kalian tentang nyawa-nyawa yang terlindungi darahnya yang terhilangkan akibat ulah tangan kalian?”

Jika aku yang ditanya tentang itu, aku akan katakan bahwa orang-orang itu telah memutar balikkan perkataan saya, saya tidak bermaksud membunuh orang-orang yang mereka nilai itu (pernyataan ini sama dengan penjelasan terakhir Anda dalam harian tersebut).

Maka saya katakan: Semoga Alloh memaafkanmu, wahai Abu Muhammad, kapankah harian berita dan saluran seperti Al-Jazeera itu menjadikan tujuannya adalah membela kebenaran dan pengikutnya? Padahal Anda sendiri yang menunjukkan kepada kami tentang jalan yang ditempuhnya.

Mengapa Anda tidak mau menunggu beberapa saat sampai berita tentang kondisi yang kami alami sampai kepada Anda dengan jelas? Setelah itu silahkan Anda memilih cara-cara syar`i yang Anda kehendaki dalam memberi nasehat. Kemudian apa yang benar, niscaya akan kami ambil dan praktekkan. Sedangkan yang tidak benar, kami akan menjelaskan cara pandang kami secara syar`i dan ijtihad kami sesuai kondisi lapangan yang kami alami, di mana Anda tidak mengetahuinya karena keberadaan Anda yang jauh dari lapangan tersebut.

Perlu Anda ketahui juga, wahai Syaikh kami yang mulia, bahwa masalah ini tidaklah terlalu menggangguku seperti mengganggunya terhadap urusan jihad. Sebab saya hanyalah salah satu anggota kaum muslimin, yang barangkali sebentar lagi akan memenuhi panggilan Robbku. Tetapi yang sangat-sangat saya sedihkan adalah dampaknya terhadap jihad yang kini sedang berlangsung; yang berkahnya mulai nampak bagi setiap yang memiliki mata, bangunan jihad ini akan dirobohkan. Jika itu terjadi -kita berlindung kepada Alloh-maka Anda punya andil besar di dalamnya. Saya memohonkan perlindungan kepada Alloh untukmu jika engkau sampai mengikuti langkah-langkah setan, sehingga Anda akan binasa. Berhati-hatilah, wahai Syaikh kami yang mulia, dari makar musuh-musuh Alloh. Waspadalah, jangan sampai mereka menggiring Anda setahap demi setahap untuk memecah belah barisan mujahidin.

Apakah Anda tidak menyadari, betapa besar perhatian mass media terhadap wawancara yang tidak tepat timing dan isinya ini?

Tidak pernah terbetikkah di dalam benak Anda bahwa “corong pemberitaan bayaran” itu tidak akan pernah berusaha menampakkan kebenaran dan menyerang kebatilan?

Pembawa acara yang mengadakan wawancara dengan Anda tampil di hadapan kami dalam acara: Ma waro’a `l-khobar (Inside Story), ia mengatakan: “Aparat keamanan menghubungi Syaikh Al-Maqdisi sementara saya ada di sampingnya, mereka meminta beliau melakukan wawancara dengan sebuah stasiun televisi.” Taukah Anda apa maksud kata-kata ini, wahai Syaikh kami yang mulia?

Tahukah Anda, bekas apa yang akan ditinggalkan oleh kata-kata ini dalam benak kaum muslimin?

Ketahuilah wahai syaikh kami yang mulia:

Terkadang saya masih meragukan kapasitas agamaku, akan tetapi aku sama sekali tidak meragukan kapasitas agama Anda. Namun, wahai Abu Muhammad, mengapa Anda lupa dengan hadits Shofiyah berikut ini?

“Dari `Ali bin Husain, bahwasanya Nabi SAW bersama isteri-isterinya di masjid. Kemudian masing-masing dari mereka pulang, maka Nabi SAW bersabda kepada Shofiyah: “Jangan terburu-buru, aku akan pergi mengantarmu.” Kebetulan rumah Shofiyah ada di perkampungan Usamah. Akhirnya Nabi SAW pergi bersama Shofiyah, tiba-tiba beliau berpapasan dengan dua orang shahabat Anshor. Mereka melihat ke arah Nabi SAW lalu mempercepat langkahnya. Maka Nabi SAW mengatakan kepada mereka: “Kemarilah, ini adalah Shofiyah binti Huyaiy.” Mereka berkata: “Subhanalloh, wahai Rosululloh.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya setan mengalir pada diri anak Adam pada aliran darah, dan aku khawatir setan membisikkan sesuatu dalam diri kalian.”

Mengapa Anda memberi kesempatan kepada musuh untuk menyerang saudara-saudaramu sendiri? Hasbunalloh wa ni`ma `l-Wakil.

Sebelum diakhiri, tetap harus saya katakan: Syaikh Al-Maqdisi -hafidzohulloh-termasuk orang yang harus dihormati hak dan bala’ yang pernah beliau alami, beliau adalah orang yang harus kita berbaik sangka kepadanya, beliau adalah orang yang paling layak diterima udzurnya dan dimaafkan ketergelincirannya. Dan menurut saya, tidak ada seorang muwahid pun di zaman sekarang kecuali Syaikh Al-Maqdisi memiliki peran lebih terhadapnya. Bukan berarti ketika beliau menyatakan pendapat tidak benar dalam suatu masalah, kemudian terhapus kedudukannya, keilmuannya dan perintisan beliau dalam menapaki dakwah ini serta cobaan yang beliau alami.

Dan kalau bukan karena rawannya ucapan yang beliau katakan dan dampak yang akan ditimbulkannya terhadap jihad dan mujahidin, tentu jawaban saya ini tidak perlu ada.

Semoga Alloh memaafkan saya dan beliau, mengampuni saya dan beliau, menutup akhir kehidupan saya dan beliau dengan kebaikan, dan tidak memberi kesempatan bagi musuh-musuh-Nya untuk mencelakai kami dan beliau.

Dan limpahkanlah sholawat, Ya Alloh, kepada Sayyidina Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

Abu Mus’ab Az Zarqawy
TANZIMUL-QO’IDAH FIE BILADIR-ROFIDAIN

BACA JUGA...



Widget by Scrapur

Komentar :

ada 0 comments ke “Jawaban Syaikh Az-Zarqawy terhadap Wawancara Syaikh Al-Maqdese dengan Stasiun Al-Jazeera”

Post a Comment

Berikan Komentar Anda

Berita Hangat...

Pemesanan Produk (sertakan nomor HP Anda agar bisa dihubungi)

Free chat widget @ ShoutMix

Identitas Anda...